Ospek di Psikologi, aku pikir akan se-horor yang diceritakan oleh senior-seniorku atau guruku yang sampai ada berpura-pura menjadi orang gila, atau menyatakan cintanya pada Pohon. Di sini ospek disambut dengan suka cita dengan lagu khas mahasiswa, “Kepada Para Mahasiswa, Yang Merindukan Kejayaan”
Sebelumnya pascara upacara penyambutan universitas, masing-masing mahasiswa akan lari ke stand-stand di masing-masing fakultas. Di situlah akan diinfokan mengenai atribut apa yang perlu disiapkan oleh MaBa (Mahasiswa Baru). Di antaranya
- Buku Perkenalan
- Buku Catatan
- Papan nama di dada dengan ukurannya
- Bagi laki-laki potong rambut maksimal 3 cm, perempuan yang tidak berjilbab rambutnya dikuncir 2
- Menggunakan bawahan hitam, dan atasan putih, berspatu hitam, dsb.
“Aaaarrrrggghh, menyebalkan.” Teriaku di hati ketika pulang ke kost. Pada waktu itu aku belum boleh diperkanankan oleh kakekku di luar kota untuk tidak menggunakan motor hingga satu semester, hal ini untuk membiasakan diri untuk berdaptasi dengan lingkunagn. Sehingga hari-hariku selalu diwarnai dengan jalan kaki atau menggunakan angkot istimewa.
Hari pertama PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru), aku mencoba kenalan dengan teman-teman yang aku anggap asing. “Imam,” Sapaku sambil menjabat tangan teman baru yang aku temui. “Imam, lho kok sama?” jawab temanku yang juga bernama Imam yang kelak karena teman-teman angkatan bingung, akhirnya kami sepakat kalau aku dipanggil Faisal dan temanku tu dipanggil Agung. Inilah awal mula mengapa aku lebih dikenal sebagai Faisal di Semarang. Dan ternyata aku tidak sendirian, karena ada juga temanku dari satu SMA yang mendaftar di fakultas ini hanya saja mereka di non-reguler.
Hari pertama itu diwarnai dengan pembagian kelompok dan sosialisasi jargon-jargon dan Yel-Yel (Uh, tau ga ini hal paling konyol yang pertama kali aku lakukan, bagaimana tidak harus bergoyang, meloncat, teriak, hingga berputar-putar, karena hal ini gak aku temui ketika di kampung, haha). “2006!!!” Teriak seorang senior. “Baguuuuus,” Saut Maba serempak dengan 2 jempol tangan di ayunkan ke depan ( Haaah, Capek Dech) Tetapi, kelak inilah yang akan mengompakan angkatanku dan kelak baru aku sadar inilah kenang-kenangan angkatanku.
Setelah itu barulah, kami berkumpul dalam satu kelompok untuk berkenalan, menentukan ketua kelompok, dan membuat yel-yel kelompok (tapi aku sudah lupa dengan yang satu ini, hihi). Hari itu dipenuhi dengan pengenalan fakultas oleh kaprodi yang aku kenal sebagai orang yang necis meskipun sudah sepuh (tua), yaitu pak Darmanto Jatman. Yang kelak beliau aku baru tau beliau itu dikenal sebagai budayawan yang produktif. Meskipun akhirnya beliau sekarang menderita stroke dan tidak bisa lagi mengajar.
Sore hari, di hari pertama diumumkan tugas-tugas untuk hari besok. Tugas itu terasa sangat berat karena dibawakan oleh para senior yang dikenal komdis (komisi disiplin) bersedia bersikap bengis selama PMB, hanya menampilkan kegalakannya di depan Maba,”Buat papan nama yang sesuai dengan kelompok kalian, warnanya silakan disesuaikan dan jangan sama, mengerti??!!! Serta membuat resensi buku dari buku psikologi populer. Selain itu juga membuat laporan dari berita pada hari ini. Setelah acara ini selesai saya tidak mau tau, pokoknya tidak boleh ada yang masih di kampus” ‘Hfff, tugas lagi,”gumamku.
Oya, selama PMB bagi yang mampu membuat prestasi atau berani bertanya atau berpendapat akan mendapatkan bintang dengan warna emas dan yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan gambar jempol hitam yang mengarah ke bawah. Yang kelak akan aku ketahui bahwa ini mengacu pada salah satu teori dalam Psikologi yaitu Behaviorisme yang salah satunya juga memperkanlkan konsep reward and punishment. Reward diberikan agara suatu perilaku itu diulang, dan punishment itu diberikan agara suatu perilaku dihambat atau tidak diulangi lagi.
Keesokan harinya, PMB hari kedua pun tidak jauh berbeda karena diisi oleh beberapa materi dan pengenal UPK (Unit Pelaksana Kegiatan) kaya ekskul gitu. Hanya yang membuat menegangkan karena bagi Maba yang tidak mengumpulkan tugas atau tugasnya salah akan mendapatkan jempol hitam ke bawah, yang konon jika terlalu banyak maka bisa saja maba itu tidak akan diperkenankan untuk kuliah di sini. Selain itu juga kami disuruh untuk mengumpulkan data dari teman-teman sesama Maba, senior, dan dosen maupun karyawan sebanyak mungkin. Ketika di sesama Maba memang tidak ada masalah tetapi ketika di senior pasti banyak maunya, mulai dari nyanyi hingga menunjukan yel-yel.
“Saya mendapatkan laporan, bahwa anak-anak yang saya sebut namanya telah melakukan pelanggaran, seperti tidak senyum kepada dosen, karyawan, maupun senior, bagi yang saya sebut harap maju ke depan.” Kata komdis (komisi disiplin). “Hah? Siang-siang sudah ada penguman pelanggaran? Kejem banget sich.” Kataku dalam hati sambil melihat beberapa anak yang maju ke depan sesuai dengan nama yang dipanggilkan. Setelah maju ke depan dan diomel-omeli barulah aku tahu bahwa ternyata, “Selamat Ulang Tahun…” (Gila dah, dulu klo ada yang ultah paling ditawurin tepung, sekarang dikerjain kaya gini).
Sorenya seperti biasa komdis mengumumkan tugas-tugas untuk hari ketiga, yang aku bersyukur itu hari terakhir PMB. “Besok setiap kelompok membawa tanaman untuk ditanam di lingkungan kampus, beserta alat-alat seperti ember, cangkul, arit, sapu, untuk tugas individu silakan kalian cari roti cap mangkuk merah kemudian membawa makanan sesuai dengan puisi ini Di musim salju, sungai mengalir, petani berkebun di kebun yang hijau, dan matahari pun bersinar (ya meskipun gak sama tapi paling tidak seperti inilah, hehe). Harus ketemu.” ‘Apa-apaan lagi nich? Aku pikir hari terakhir gak ada tugas atau tugasnya ringan ni malah berat”
Malamnya dengan kebingungan akhirnya aku dengan dibantu oleh pak Kost mencari apa yang disebut roti cap mangkuk merah. Pada waktu itu baru cuman aku yang kost di situ dari Maba. Dari toko ke toko aku kunjungi, jawabannya selalu sama,”Gak ada roti cap mangkuk merah.” Akhirnya aku menyeleweng untuk membeli roti dengan merek berbeda. setelah di kost baru aku tau dari anaknya ibu kost kalau roti cap mangkuk merah itu cuman akal-akalan senior saja. Beli roti biasa saja terus buat kertas bertuliskan “Roti Cap mangkuk Merah” itu sudah cukup.
Besok paginya, sesuai dengan tugas yang kemarin telah disebutkan akhirnya dikumpulkan ke panitia. Sedangkan peralatan berkebun di bawa masing-masing dengan tidak lupa dicek oleh komdis. Setelah senam pagi yang aku sendiri bingung itu senam apa, akhirnya kami bersih-bersih kampus dan menanam tanaman yang telah dibawa.
Hari terakhir itu diisi dengan pengisian KRS, jadwal mata kuliah sudah kami dapat dari UPK SKRIPSI (Sie Kerohanian Islam Psikologi). Hari terakhir itu juga diisi dengan renungan. Sampai sedihnya ada mahasiswa yang pingsan juga. Selain itu juga penentuan kakak-kakak ter-ter, mulai dari terbaik hingga tergalak, tentu saja komdis mendapatkan gelar sebagai kakak tergalak. Meskipun akhirnya mereka mengaku kalau itu hanya acting mereka selama PMB. Setelah salam-salaman dan membagikan makanan hasil dari yang kami bawa kami menuju mushola kampus untuk sholat Jum’at bersama bagi yang muslim.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Aku bisa pulang hari ini..” Ya aku ingin pulang hari ini karena senin sudah mulai kuliah hari pertama. Rasanya luar biasa menyenangkan pulang ke rumah, rumah seperti menjadi tempat yang luar biasa hebat darpada sebelumnya. PMB 3 hari akhirnya selesai, PMB yang aku kira sangat berat itu ternyata belum apa-apa buat teman-teman fakultas lain, “Enak bener kamu dikasih makan? Aku gak sama sekali” cerita temanku ketika menceritakan temannya dari Teknik. Atau anak jurusan perikanan yang memakai kalung ikan selama PMB. Ternyata apa yang kita pikir berat ternyata belum seberapa daripada apa yang orang lain alami.

Nice article….sangat inspiratif. Good luck and salam kenal yach sob…by info mesin roti