Ola, pagi ini aku dapet sms suruh ngisi mabit ma adek-adek angkatanku di Sie Kerohanian Islam Psikologi, smsnya dari Sahid (si mas’ul-nya), gini :
“Assalamu’alaikum.. Mas faisal.. Insya alloh untuk tema mabit, “bersihkan hati, menjadi muslim sejati” waktunya 1 jam.. 20.00-21.00, sdh termasuk diskusi mas.. gmn mas..? Afwan mas sblm’a klo kurang sopan, g pke undangan..”
Sebenernya ni tema lumayan berat mengingat aku juga belum bisa memanage hati dengan baik. Aduh gimana ya? Masa aku mau bilang ke mereka, “Membersihkan hati itu mudah, keluarkan hatimu dulu, kemudian cuci pake detergen, InsyaAlloh bersih” Haaaa….
Hmmm, aku inget sebuah hadist yang pernah aku baca di bukunya Ustadku waktu masih di madrasah diniyah dulu, hadisnya seperti ini
Yep, hati itu kaya kaca,semakin banyak kotoran yang menempel maka kaca tidak bisa menerima cahaya dengan baik, kita tidak bisa pemandangan di balik kaca itu, karena gelap. Oleh karena itu, kita perlu membersihkannya. Kita simak perkataan ulama Islam terkemuka Ibnu Qayyim Al-Jauziah,
“Barang siapa yang menginginkan hati yang bersih, hendaklah ia lebih mendahulukan Tuhannya ketimbang syahwatnya. Karena hati yang ‘terpaut ‘ oleh syahwat tertutup dari Allah sesuai dengan kadar ‘Keterpautannya’ dengan syahwat itu. Hati adalah ‘ wadah’ Allah di atas bumi-Nya. Maka hati yang paling di cintainya adalah yang lebih ‘tinggi’ ( kadar kesuciannya) lebih keras ( kuat ) dan lebih bersih. Jika hati itu di beri makan dengan ‘ dzikir’ , di siram dengan tafakkur dan di bersihkan dari cela , ia akan ( mampu ) melihat berbagai keajaiban dan akan di ilhami oleh hikmah “
Ok, sebelum berbicara bagaimana caranya? Kita akan berbicara mengapa perlu dibersihkan? Manusia memiliki dua komponen dalam dirinya, yaitu jasad dan ruh (QS). Dari tanah yang kemudian dibentuk oleh Alloh SWT, kemudian ditiupkan ruh Ilahiah Alloh ke dalam tanah tersebut sehingga jadilah manusia dengan membawa sifat-sifat Alloh SWT. Meskipun membawa ruh Alloh, manusia tetap bukanlah Tuhan, tetapi manusia adalah wakil Alloh di bumi ini (Khalifah). Yang akan mengemban amanah kesejahteraan bagi bumi dan seisinya.
Nah, ruh itu fitrah yang artinya suci, hanya saja karena terbungkus oleh jasad maka esensi-esensi sifat-sifat tanah tetap ada. Sehingga syahwat pun tetap dimiliki oleh manusia. Setan pun berperan sesuai janjinya saat menggelincirkan Nabi Adam AS dahulu akan merekrut manusia untuk menemaninya di neraka. Sehingga dua komponen itu terkesan saling bertentangan satu sama lain, berebut siapa yang mengendalikan. Semakinbesar di antara keduanya, maka akan mengalahkan lainnya. Bagaimana doi bisa membesar? Ya tergantung makannya, semakin sering dikasih makan maka semakin sehat.
Klo Syahwat yang sering dikasih makan maka otomatis syahwat pun tumbuh sehat untuk mengalahkan fitrah manusia. Begitu juga dengan sebaliknya.
Nah, berbicara makanan syahwat dan makanan ruhiyah, klo syahwat itu makanannya dosa, maka ruhiyah makanannya adalah pahala.
Lalu di mana hati? Banyak yang memperdebatkan di mana letak Qalbu itu? Ada yang mengatakan di jantung, ada yang mengatakan di otak. Tapi, mayoritas sepakat jika qolbu itu abstrak. Baiklah kita tidak usah memperdebatkan karena saya sendiri pun belum sampai ilmunya untuk ke sana.
Ada dua esensi manusia yang cukup penting di antaranya yang terpenting adalah qalbu dan akal. Keduua-duanya bekerja sama untuk dapat membentuk diri manusia kembali kepada kefitrahan-nya. Akal makananya adalah tafakur dan segala aktifitas berpikir lainnya termasuk menuntut ilmu, intinya mendapatkan informasi. Sedangkan hati adalah dengan ibadah kepada Alloh, seperti sholat, sedekah, puasa, dzikir, dsb. keduanya bertugas mengendalikan nafsu agar tidak merajai, ingat dikendalikan bukan dikalahkan. Karena manusia bukan malaikat, dengan nafsu manusia tetap membutuhkan kebutuhannya.
Out put dari semua itu adalah akhlak yang baik, baik terhadap dirinya sendiri, sesama manusia, sesama makhluk Alloh, dan pada Alloh SWT. Sejatinya ibadah-ibdah yang kita lakukan adalah dalam rangka mentraining kepribadian kita agar menjadi pribadi yang baik.
Wallohu’alam bi Showab
